Panggilan

Tuhan akan memakai engkau untuk memuridkan generasi muda, jadi kita perlu mendengar panggilanNya. Ini bukan mengenai suasana yang dahsyat dan suara yang menggelegar dari langit, seringkali Tuhan memanggil secara khusus bahkan saat anda sedang berada di toilet. 

 1. Dengarkanlah Dia I. Pendengar Cerewet. Dalam Matius 17: 1-13 Tuhan Yesus membawa ketiga muridNya yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi dan hanya ada mereka sendirian di gunung itu. Kemudian Yesus berubah rupa menunjukkan wujudNya yang kudus yaitu rupa ke AllahanNya, kedahsyatan memenuhi suasana saat itu. Sinar yang sangat terang menyinari tempat itu dan sinar itu berasal dari wajah Yesus. Kemudian nampak Yesus sedang berbicara dengan Musa dan Elia. 

 Disini kita melihat cara Allah menerima umat manusia sangat berbeda dengan cara manusia menerima Allah, atau dengan cara manusia menerima dirinya sendiri, juga dengan cara manusia menerima sesamanya. Yesus mengobrol dengan Musa dan Elia seperti seorang teman. Memang Allah menganggap mereka teman, manusia yang dijadikan teman Allah, karena Allah sedang mengutarakan isi hatinya kepada sahabat-sahabatnya (Yohanes 15:15). Apa yang sedang Yesus bicarakan memang tidak dicatat di dalam Alkitab. Tetapi kita melihat satu kebenaran Firman perjanjian lama sudah tergenapi disini (Mazmur 2:7). 

 Melihat kejadian yang megah dan dahsyat itu, Petrus mengutarakan kebahagiaan yang diluar akal manusia, sehingga Petrus menawarkan untuk membuatkan kemah, padahal kemah harganya sangat mahal saat itu, dan Petrus tidak memperdulikan biaya karena sedang diliputi perasaan emosional yang dahsyat dengan Tuhan, seperti kebanyakan orang pada saat ini, yang mudah terbakar emosinya pada saat mendengar kothbah. Saat Petrus sedang berbicara kemudian awan melinggkupi mereka dan Allah Bapa berbicara : "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." Dengan segera ketiga murid itu semakin gentar, mereka tersungkur dan tidak berbuat apa-apa selain ketakutan. Saya sering memikirkan ayat ini, mungkinkah Petrus tidak dapat mendengar dan mencatat pembicaraan Yesus terhadap Musa dan Elia karena dia terlalu sibuk bicara? Sampai-sampai Allah Bapa memotong pembicaraan Petrus dan berkata: “stop Petrus, dengerin anakKu Yesus lagi bicara dong”. Petrus yang sibuk bicara sendiri akhirnya terdiam ketakutan dan mulai mendengarkan Yesus (Saya menuliskan dengan ringan karena memang Roh Kudus sering mengajarkan firman dengan cara demikian pada saya). 

Saya menceritakan ini seperti sebuah parodi, tapi seringkali kita melakukan hal seperti ini terhadap Yesus. Kita sering melakukan hal yang Petrus lakukan pada waktu itu. Ketika sedang berada didalam pembicaraan dengan Tuhan, kita malahan banyak memberi masukan kepada Tuhan. Menasehati Tuhan untuk melakukan visi dan ide kita sendiri, memikirkan untuk membuat kemah bagi Yesus, memikirkan kemahnya Musa, kemahnya Elia, wow, sibuk sekali planingnya, sampai lupa mendengarkan hal penting dari Tuhan. Seperti Petrus, kita menjadi pendengar yang cerewet, yang berbicara ketika Tuhan sedang berbicara. Perhatikan ide yang muncul dari Petrus, “bikin kemah buat Tuhan Yesus, Musa, Elia”, - it’s sound so great - tapi idenya Petrus bukan ide yang kekal yang akan memberkati banyak generasi. Ini pemikiran manusia yang harus kita hindari. Bayangkan jika ide itu dibuat, mungkin sekarang kita akan mengalami kerepotan, untuk bisa mendengar Tuhan berbicara kita mesti pergi ke Israel, dengan biaya yang mahal dan kloter yang mungkin tidak akan pernah berangkat sampai kapanpun. 

 Cara berpikir manusia dan ide-ide daging seringkali berusaha menyusup ketika kita sedang berusaha mendengarkan perkataan dan rencana Tuhan. Ini sangat berbahaya, karena kita telah belajar dari kesalahan Abraham ketika memilih Hagar, juga Musa ketika memilih memukul bukit batu, Daud pada saat memilih untuk menghitung jumlah rakyatnya dan banyak contoh lainnya. Kita memang harus belajar dari catatan sejarah dan pengalaman para hamba Tuhan terdahulu, yaitu pelajaran berharga ketika kita memilih untuk berjalan berdasarkan keinginan kita, maka kesalahan dan kesulitan sedang menanti kita. 

 Kita harus terampil untuk membedakan mana yang rencana Allah dan mana keinginan daging. Jangan menjadi pendengar yang cerewet yang penuh dengan ide pada saat kita sedang mencari kehendak panggilan Allah, jangan mengandalkan pengalaman kita, karena Allah bekerja melampaui pengalaman, Dia bukan Allah yang pernah kita alami, tetapi Allah adalah pengalaman baru, cara baru, dan Firman dan petunjuk baru setiap hari(Amsal 8:34). Kitab Markus menambahkan catatan, yang berkata bahwa Petrus mengatakan itu semua karena tidak tahu harus berkata apa (Markus 9:6). 

Kata yang di terjemahkan sebagai “tidak tahu” di dalam bahasa aslinya mengandung arti tidak pernah mengalami kondisi semacam itu. Dan perlu di ingat bahwa ketika kita mendengarkan Allah pencipta semesta, maka akan ada sangat banyak hal yang kita tidak ketahui dariNya. Allah dengan berjuta kemungkinan baru yang tidak kita mengerti, akan bekerja seturut rancanganNya yang tidak pernah gagal. 

 Kita perlu mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan ini, yaitu dengan cara tidak membatasi ide Allah dengan pikiran dan ide kita yang terbatas ini. Karena kita tidak akan pernah tahu keajaiban apa yang sedang di rencanakanNya. Maka dari itu kita mesti belajar mendengarkan Tuhan berbicara, karena Tuhan memang sedang berbicara kepada orang percaya, untuk membagikan cara supaya anda dapat melakukannya.

Comments