Bukan Spektakuler.
Tuhan memanggil kita untuk
melakukan hal-hal yag Dia perintahkan secara khusus. Barangkali kita sering
salah mengerti, bahwa melakukan panggilan Tuhan adalah selalu berkaitan dengan
mujizat, dan kedahsyatan dan perbuatan ajaib lainnya. Kita memang akan
melakukan mujizat dan perbuatan dahsyat bersama Roh Kudus, jika memang Allah
menghendaki demikian, tetapi tidak selalu. Bahkan didalam panggilan pelayanan,
kita malah terlebih sering melakukan hal-hal biasa yang tidak nampak
spektakuler, bahkan bisa jadi nampak seperti tidak populer dan tidak banyak
orang yang menghendakinya.
Kita akan melihat beberapa contoh
orang-orang yang dipanggil Tuhan untuk menggenapi rencanaNya bagi generasi, dan
bagaimana mereka mengawali perjalanan pelayanan mereka yang tidak populer itu.
Tetapi seluruh dunia justru mengenal mereka semua sebagai pejuang atau pahlawan
iman, yang membawa jutaan orang pada pertobatan dan mengenal Allah.
[1] Pelayanan David
yang pertama berawal dari perkenalannya dengan Robert Moffat pada tahun 1840.
Pertemuan mereka telah menggugah hati David Livingstone untuk menjadi relawan
dan pergi melayani di bagian selatan benua Afrika. Untuk mewujudkan keinginan
tersebut, David Livingstone menerima tawaran dari LMS dan bertolak dari Inggris
pada Desember 1840 dan tiba di Pangkalan Kuruman pada tahun 1841. Dia mendarat
di Benua Hitam dengan membawa "sextant" (semacam kompas), beberapa
lembar buku, alat peneropong, dan obat-obatan. Kerinduannya yang terbesar adalah
melayani di daerah-daerah yang belum terjamah oleh orang kulit putih.
Watchman Nee (1903 – 1972).
Watchman Nee tidak pernah belajar di sekolah teologi. Wawasan iman
dan teologinya ia peroleh dengan membaca bacaan-bacaan rohani yang ia dapat
dari Margaret Barber, seorang misionaris Anglican. Buku-buku rohani yang ia
baca, antara lain Pilgrim`s Progress karya John Bunyan, Biografi Hudson Taylor
dan Madame Guyon, The Spirit of Christ karya Andrew Murray, Autobiografi George
Muller, Church History karya John Foxe, dan sebagainya. Ia benar-benar
seseorang yang tekun menggali firman Tuhan.
Pada masa-masa awal pelayanannya, ia membagi uang yang ia dapat
menjadi 1/3 untuk kebutuhan pribadinya, 1/3 untuk membantu sesamanya, dan
sisanya untuk membeli buku-buku rohani. Ia memeroleh lebih dari tiga ribu buku
Kristen yang bermutu, termasuk karya-karya tulis orang-orang Kristen pada abad
pertama. Setelah bertobat, ia mulai terbeban untuk memberitakan Injil kepada
teman-teman di sekolahnya. Ia menulis nama tujuh puluh temannya dan secara
teratur mendoakan mereka satu persatu setiap hari.
Dalam beberapa bulan, hanya satu dari antara mereka yang tidak
mengalami kelahiran baru! Mereka mulai mengadakan persekutuan doa di kapel Trinity
dan persekutuan ini terus berkembang hingga meluber sampai ke jalanan di
Foochow. Mereka juga kerap membagikan brosur yang berisi berita mengenai jalan
keselamatan kepada orang-orang yang
mereka temui di jalan.[2]
Charles Haddon Spurgeon (1834 – 1892).
Spurgeon mengawali pelayanannya dengan berkhotbah kepada orang-orang
yang terkenal sebagai pemabuk.[3]
Billy Graham (William Franklin Graham umur 98 Charlotte, North Carolina).
Ia hanya mengikuti kurusus teologi di Florida Bible Institute,
sebuah kursus teologi fundamentalis. Setelah menyelesaikan kursus teologinya,
Billy menjadi pendeta Baptis di selatan (Southern Baptist Convention). Perhatiannya
terutama ditujukan kepada kaum muda yang acuh tak acuh terhadap gereja dan
kekristenan. Ia pun mendirikan sebuah lembaga penginjilan yang bertujuan untuk
mengadakan penginjilan kepada kaum muda, khususnya kepada siswa-siswa sekolah
menengah yang bernama Youth fo Christ (Pemuda bagi Kristus).[4]
John Newton (1725 – 1807)
Dia mulai membaca Alkitab dan buku-buku rohani
lainnya. Dari itu dia mulai menghindari kata-kata kotor, perjudian, dan
minum-minuman keras. Meminta Tuhan untuk mengambil alih takdir hidupnya.[5]
John Wesley (1703 –1791).
Langkah kunci pelayanan Wesley adalah seperti yang gurunya lakukan yaitu
Whitefield, Wesley melakukan perjalanan dan berkhotbah berkeliling diluar
ruangan.[6]
Bunda Teresa dari Kalkuta (1910 – 1997).
Pada tanggal 10 September 1946, Teresa mengalami apa yang kemudian
ia digambarkan sebagai "panggilan dalam panggilan" saat bepergian
dengan kereta api ke biara Loreto di Darjeeling dari Kalkuta untuk retret tahunannya. "Saya meninggalkan biara dan membantu
orang miskin ketika tinggal di antara mereka. Itu adalah perintah. Jika gagal hal
ini akan mematahkan iman." Salah satu tulisannya kemudian diamati,
"Meskipun tidak ada yang tahu pada saat itu, Suster Teresa baru saja
menjadi ibu Teresa". Dia mulai pekerjaan misionaris dia dengan orang
miskin pada tahun 1948. Teresa menulis dalam buku hariannya bahwa tahun
pertamanya adalah penuh dengan kesulitan. Dia tidak punya penghasilan dan harus
berjalan untuk meminta makanan dan persediaan. Teresa mengalami keraguan,
kesepian dan godaan untuk kembali ke kenyamanan hidup biara selama bulan-bulan
awal. Dia menulis dalam buku hariannya.[7]
Mari kita perhatikan semua pahlawan dahsyat Tuhan dalam catatan
kecil diatas. Mereka semua dikenal karena melakukan pekerjaan Tuhan yang luar
biasa, tapi perhatikanlah bagaimana mereka mengawali pelayanan mereka.
David livingstone mengawali dengan hanya membawa kompas, buku dan
sedikit obat-obatan ke Afrika. Watchman Nee, tekun membaca Alkitab dan
buku-buku rohani, serta hanya tekun berdoa bagi tujuh puluh temannya yang belum
mengenal Tuhan, yang akhirnya hampir seluruhnya diselamatkan. Charles H. Spurgeon,
mengawalinya dengan berkhotbah kepada orang-orang pemabuk. Billy Graham,
melayani persekutuan anak SMA. John
Newton, memulai dengan berkomitmen pada dirinya sendiri untuk merubah wataknya.
John Wesley, dia meniru gurunya, berkhotbah keliling di ruang terbuka dengan menggunakan
kuda.
Dan contoh terakhir, Bunda Teresa, siapa tidak mengenal dia? Seluruh
dunia mengenalnya sebagai Kristus yang pernah hidup di India. Tetapi perhatikan
hal apa yang dikerjakannya untuk memulai pelayanannya, hanya berkeliling
menolong orang miskin, dan itu saja yang dia kerjakan sampai Tuhan memanggilnya
pulang ke Sorga. Dan perhatikan, bahkan dia pernah mencatat kesusahannya, dan
pernah mamiliki perasaan yang lumrah dan manusiawi, yaitu untuk meninggalkan
pelayanan dan kembali ke kehidupan yang nyaman.
Kita harus belajar dari mereka, perhatikan, mereka orang-orang
biasa, yang menyerahkan hidupnya pada Yesus dan melakukan hal-hal biasa, tetapi
Allah begitu mencintai mereka, dan memakai mereka secara luar biasa untuk
memberikan pengaruh atau dampak yang dahsyat bagi dunia ini, sepanjang masa.
Ketika kita mulai mendengar panggilan Tuhan, dan menyadarinya, seringkali kita membayangkan
hal-hal spektakuler yang kita pikir harus kita kerjakan dalam pelayanan kita. Tapi
ingatlah, dan renungkanlah, mereka para pahlawan Allah ini hanya melakukan hal
yang mereka bisa lakukan bersama Tuhan. Tidak ada suatu rancangan brilian,
tidak ada suatu persiapan yang cemerlang, tidak ada tanda-tanda dari langit
yang mengawali pelayanan mereka. Melainkan hanya iman didalam hati mereka yang
menyertai, dan selalu berkata “ya” untuk setiap tugas dari Tuhan. Karena sisa
dari perjalanan pelayanan kita, Roh Kudus yang akan selalu membimbing dan
menolong serta memampukan kita untuk langkah-langkah yang harus kita kerjakan, kita
hanya harus berjalan selangkah demi selangkah bersama dengan Yesus (Matius
28:20b).
Ketika saya mengajarkan ini pada anak-anak muda, saya selalu berkata, bahwa didalam
Tuhan tidak ada kata “bisa atau tidak bisa”, “mampu atau tidak mampu”, yang ada
hanya dua pilihan, yaitu: “ Mau atau Tidak Mau”. Tuhan menunggu jawaban itu
keluar dari hati dan mulutmu, apakah kamu akan mengabaikan panggilan Tuhan ini
atau menerimanya, karena ini memang tujuan kehidupan kita, yaitu melakukan misi
Tuhan bagi generasi ini.
[1] http://biokristi.sabda.org/David_Livingstone. Dirangkum oleh: Yohanna Prita Amelia dirangkum
dari: As. Sinar Terang di Afrika (David Livingstone 1813-1873).
Comments
Post a Comment